Suatu tempat di Seoul, tempat yang sangat ingin aku kunjungi namanya Donghae City. Aku baru saja tiba di Seoul 1 jam yang lalu dan sekarang aku berada di dalam taxi yang sedang melaju ke apartemen sahabatku yang kebetulan tinggal di Seoul. Tujuan utamaku datang ke Seoul adalah mencari namja chingu-ku yang kuliah dan kerja disini 5 tahun lalu. Jika sedang liburan, dia akan datang ke Beijing menemuiku. Karena 2 tahun terakhir ini tidak ada kabar apapun darinya, aku memutuskan untuk datang ke Seoul mencari dan menemuinya.
“Apa dia uda menikah disini yah? Atau sesuatu yang buruk terjadi padanya? Meninggal mungkin..” kataku dalam hati menerka-nerka apa yang terjadi.
Aku lupa memperkenalkan diriku setelah ngoceh panjang lebar dan berpikir yang tidak masuk akal. Namaku Veronica, nama koreaku Songphae. Tahun ini, aku berusia 21 tahun dan statusku ‘in relationship’.
Aku sepertinya duduk di taxi ini sudah sekitar 30 menit dan tempat yang aku tuju belum kunjung tiba, pantatku siap-siap mengeluarkan asap saking lamanya duduk. Taxi itu tiba-tiba berhenti di tepi jalan, tepat di depan sebuah gedung yang tinggi besar.
“Sudah sampai di tempat tujuan anda..” kata supir taxi itu padaku.
“Kamsahamnida..” kataku berterima kasih dan segera melompat turun dari taxi sebelum taxi itu terbakar karena pantatku yang sudah panas.
Aku berjalan masuk ke dalam gedung yang tinggi besar itu dengan travel bag yang aku seret-seret dan sebuah ransel yang tergantung di punggungku. Di dalam lobby gedung itu banyak kursi-kursi tunggu dan orang-orang pada duduk bersantai sambil ngobrol disana.
“Songphae ya..” teriak seseorang yang mungkin itu adalah sahabat tercintaku.
Aku menoleh dan melihatnya melambaikan tangan ke arahku. Aku berjalan menghampirinya yang sudah berubah total dari waktu terakhir aku bertemu dengannya. Badannya langsing, tinggi, wajahnya bersih dan kulitnya terlihat sehat.
“Kyura, kau sudah berubah sekarang..kau kerja apa disini? Model? Atau artis?” tanyaku heran dengan perubahannya itu.
“Ah~ kau bisa saja..aku jadi manager yang ngurus pembangunan resort di Donghae City..” jawab Kyura.
“Mwo?! Donghae City?? Itu tempat yang sangat ingin aku kunjungi..” kataku kegirangan.
“Ya, aku tahu itu..Yuk, kita ngobrol di dorm saja..” kata Kyura sambil berjalan menuju lift dan aku mengikutinya dari belakang.
>>>>> Sesampainya di dorm Kyura
Aku masuk ke dalam dorm sahabatku, Kyura, terlihat sangat bersih dan semua tertata rapi. Kyura menunjukkan sebuah kamar yang bisa aku tempati.
“Kapan kau berencana mencari namchin-mu itu?” tanya Kyura padaku yang sedang sibuk menata barang-barangku.
“Mungkin besok, kau bisa mencarikan pekerjaan untukku?” jawabku dan balik bertanya lagi pada Kyura yang berdiri di dekat pintu kamarku.
“Pekerjaan? Memangnya kau akan tinggal di Seoul selamanya?” tanya Kyura heran.
“Ya..aku ingin memulai kehidupan disini, di tempat dan suasana yang baru..” kataku sambil tersenyum ke arah Kyura.
“Okay..aku akan membantumu mencari pekerjaan..kau sudah tahu alamat tempat tinggal namchin-mu? Siapa itu namanya?” tanya Kyura sambil memutar otaknya untuk memikirkan nama seseorang.
“JungSoo, Nathan..aku sudah tahu alamatnya dari saudaranya di Beijing..” jawabku santai.
“Ah~ iya, JungSoo..kau bisa bawa mobil? Ada mobilku yang nganggur, kau bisa memakainya jika kau perlu..” kata Kyura padaku.
“Gimana aku pakai mobilmu kalo aku tidak tahu jalan?” keluhku tanpa melihat ke arah Kyura.
“Iya..2 hari mulai besok, aku temani kau keliling Seoul..biar kau tahu jalan dulu..” kata Kyura sambil berjalan meninggalkan kamarku.
Aku menyusun semua pakaianku ke dalam lemari baju yang tersedia dan menyusunnya dengan rapi. Kadang pikiranku masih tertuju pada wajah JungSoo, aku rindu padanya. Aku merogoh ke dalam saku celanaku dan mengeluarkan ponselku, aku memandangi foto yang terpampang di wallpaper ponselku, foto aku dan JungSoo terlihat sangat mesra.
Setelah selesai menyusun barang bawaanku, aku berjalan keluar kamar dan menghampiri Kyura yang sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Aku mengambil gelas kosong, mengisinya dengan air mineral dan duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.
“Kau rindu pada JungSoo??” tanya Kyura tanpa menoleh ke arahku.
“Ya, sangat rindu..2 tahun tidak ada kabar apapun darinya, ponselnya tidak bisa dihubungi dan tidak ada kiriman email darinya..” jawabku dengan wajah yang sedih.
“Aku pernah bertemu dengannya ketika dia kembali dari Beijing..tapi 2 tahun terakhir ini, sama sekali tidak nampak lagi sosok JungSoo di tempat kerjanya..” jelas Kyura dengan tangan yang sibuk memotong sayuran.
“Kau satu kantor dengannya?” tanyaku agak heran.
“Aku tidak satu kantor dengannya..kantorku ada menjalin kerja sama dengan kantor tempat JungSoo bekerja, jadi kadang dia datang ke Donghae City untuk melihat perkembangan resort itu..tapi 2 tahun terakhir ini, dia tidak pernah datang lagi dan posisinya di kantor sudah diganti orang lain..” jelas Kyura.
“Kemana dia pergi sebenarnya? Apakah dia sudah melupakanku dan memiliki pacar baru disini? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya?” gumamku dengan perasaan yang gusar.
“Sudahlah, kau tidak perlu berpikir yang lain-lain..kita hanya bisa berharap dia baik-baik saja sekarang ini..” kata Kyura.
Makan siang selesai, kami pun menyantapnya sambil ngobrol karena sudah lama kami tidak bertemu.
***
Hari semakin larut, aku belum kunjung tertidur. Aku bangkit dan duduk di tempat tidur yang empuk itu, sesekali melihat keluar jendela yang memancarkan sinar dari luar dan samar-samar masuk ke dalam kamarku. Aku mengambil ponselku dan melihat layarnya, 01.00 AM.
“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa tidur sama sekali? Perasaanku benar-benar terasa sangat tidak enak, rasanya aku ingin berteriak sekerasnya..” gumamku sendiri dalam kegelapan di kamarku.
Mataku tertuju pada foto JungSoo di layar ponselku, mungkin ini adalah rasa rindu bercampur khawatir dengan apa yang terjadi dengannya.
“2 tahun tidak ada kabar darimu, sebenarnya kau ada dimana, JungSoo ya? Kenapa kau harus membuatku menjadi seperti ini? Rindu, khawatir dan takut..” kataku sambil memandangi wajah JungSoo di layar ponselku.
Aku mencoba untuk berbaring dan memejamkan mataku, berusaha untuk tidur. Tapi malah aku bermimpi, mimpi yang sangat menakutkan.
Aku berjalan di tepi jalan raya dan di jalan raya banyak sekali mobil yang lalu-lalang dengan kecepatan yang tidak bisa diduga. Aku menghentikan langkahku di satu titik dan tiba-tiba mendengar suara hantaman yang sangat keras seperti ada bom yang diletakkan tepat di sampingku. Aku menoleh ke kanan dan pandanganku terhenti pada 2 buah mobil yang bertabrakan karena kecepatan yang sangat kencang. Salah satu mobil itu meledak dan terbakar dengan api yang berkobar-kobar, mobil satunya lagi terbalik.
Aku melihat ada seseorang yang tergeletak di lantai sepertinya tercampak dari salah satu mobil itu. Aku berjalan mendekat karena saat itu tidak ada seorangpun disana untuk menolong atau apapun. Jalan aspal di sekeliling orang itu penuh dengan noda darah, wajahnya luka-luka dan bajunya yang mungkin dulunya bersih, sekarang sudah bernoda darah bercampur dengan oli mobil. Aku menghentikan langkahku setelah melihat jelas wajah orang itu.
“Tidak! Tidak! Aku pasti salah mengenal orang..” gumamku dalam hati.
Aku mengusap mataku sesekali untuk memastikan apa yang aku lihat ini. Aku mendekat lagi dan jongkok tepat di samping orang itu.
“Apa aku gila mengira orang ini adalah JungSoo? Bukan, ini pasti bukan JungSoo..mungkin orang ini kebetulan mirip dengannya..” gumamku lagi.
Aku melihat plat kedua mobil yang bertabrakan itu, aku mengenal plat mobil yang terbalik itu.
“Itu mobil JungSoo..” teriakku.
“Songphae ya, kenapa kau ada disini? Aku sangat jelek hari ini, kau jangan memandangiku..” kata orang itu terbata-bata sesekali batuk-batuk.
“JungSoo..benar kau adalah JungSoo?” tanyaku panik.
“Ya, JungSoo namchin yang paling kau cintai..” jawabnya pelan.
Aku mengangkat setengah tubuhnya dan memeluknya dengan erat, pakaian dan tanganku semua adalah noda darah.
“JungSoo, kenapa kau tidak ada kabar selama ini? Kau kemana saja? Aku rindu padamu..tolong jangan tinggalkan aku, kau harus tetap hidup dan selalu bersamaku..” kataku sambil menangis.
“Sorry, sepertinya aku tidak bisa bertahan lagi..sakit dan sangat sakit sekali..” kata JungSoo lagi.
“Tidak! Kau harus bertahan, aku akan mencari bantuan..” kataku sambil menoleh ke sekeliling tapi tidak menemukan siapapun.
Jalan yang tadinya ramai dengan mobil, sekarang sepi dan tidak ada siapapun disana.
“Tolong! Seseorang tolong aku! Tolong selamatkan JungSoo!” aku berteriak dengan suara yang sangat keras sambil memeluk JungSoo.
Aku merasa pria yang aku peluk itu melemah dan tidak bertenaga lagi seperti orang yang tidak bernyawa. Aku menyentuh dadanya tepat dimana jantungnya berada, diam dan tidak berdetak lagi.
“Andwe! Andwe! JungSoo ya..JungSoo!!!!” teriakku menangis sambil memeluk tubuh JungSoo yang sudah tidak bernyawa itu.
Aku terbangun dari tidurku, keringat dingin di sekujur tubuhku, nafasku terengah-engah dan rasa takut menyelimutiku. Takut kalau mimpi itu akan menjadi kenyataan. Aku memegang ponselku erat-erat dan menatap ke layarnya.
“Aku takut, JungSoo ya..” kataku.
***
Aku tidak tidur dari kemarin malam, wajahku terlihat kusam dan aku terus menguap karena tidak cukup tidur.
“Kau kenapa? Dari tadi menguap saja kerjamu..” kata Kyura yang memandangiku.
“Aku tidak bisa tidur kemarin, mimpi buruk saja..” jawabku singkat.
Kyura menyodorkan sebuah piring yang berisi beberapa kimbap dan segelas susu untuk sarapanku.
“Sarapan dulu, nanti aku temani mencari alamat JungSoo..” kata Kyura sambil berjalan menuju kamarnya.
“Kyura, kau tidak sarapan?” tanyaku pada Kyura yang berjalan melewatiku.
“Aku sudah sarapan dari tadi, sekarang aku bersiap ganti baju dulu..” jawab Kyura dan menghilang ke balik pintu kamarnya.
Aku menyantap sarapan yang sudah disediakannya untukku. Setelah selesai sarapan, aku masuk ke kamarku untuk berganti pakaian. Setelah selesai semuanya, aku mengikuti Kyura ke basement tempat mobilnya diparkirkan.
“Mana alamat JungSoo?” tanya Kyura padaku setelah kami duduk di dalam mobil.
Aku merogoh ke dalam tas kecil yang kubawa, mengeluarkan secarik kertas yang lengkap dengan alamat JungSoo dan memberikannya pada Kyura. Kyura melihat dan membaca alamat yang tertulis di kertas itu, lalu ia melajukan mobilnya keluar dari basement.
“Kau tidak kerja hari ini?” tanyaku pada Kyura yang sedang konsentrasi pada jalan di depannya.
“Ani..hari ini dan besok aku cuti untuk istirahat..” kata Kyura tersenyum.
“Jadi proyek resort itu, siapa yang menanganinya selama kau cuti?” tanyaku lagi.
“Cowok ganteng..cowok yang jadi asistenku yang akan mengawasi disana..” jawabnya dengan wajah berser-seri.
“Kau suka dengan cowok itu?” tanyaku penasaran.
“Pasti..dia, kan namchin-ku yang hari itu aku kenalin loh..” jawab Kyura tertawa.
“Marcus?? Dia kerja satu kantor denganmu dan menjadi asistenmu?” kataku tersenyum.
“Ya..siapa lagi kalau bukan Marcus?” jawab Kyura.
Hening beberapa saat karena kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku menatap keluar dari jendela mobil, berharap menemukan sosok JungSoo berjalan di tengah keramaian jalan. Tapi semua itu hanya imajinasiku saja. Tiba-tiba mobil berhenti dan Kyura mematikan mesin mobilnya, aku melihat sekeliling dan tidak tahu ada di depan rumah siapa.
“Rumah ini mungkin tempat JungSoo tinggal, alamatnya sudah sesuai dengan yang ditulis di kertas ini..” kata Kyura sambil menunjuk sebuah rumah yang lumayan besar.
Kami turun dari mobil dan aku mengambil kembali kertas yang berisi alamat JungSoo. Aku melihatnya dan memastikan bahwa alamat ini tidak salah. Kyura menekan bel yang ada di samping pintu rumah itu dan menunggu supaya ada orang yang membukakan pintu. Aku pun mencoba menekan bel beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada yang membukanya.
“Kalian mencari siapa?” tanya seorang wanita tua yang keluar dari rumah sebelah.
“Halmoni kenal dengan orang yang tinggal di rumah ini?” tanya Kyura.
“Siapa nama yang kalian maksud?” tanya wanita tua itu heran.
“Park JungSoo..halmoni kenal dengan dia?” tanyaku.
“Ah~ JungSoo?? Dia tidak tinggal disini lagi..rumah ini sudah dijual dan ditempati orang lain..” jelas wanita tua itu.
“Sejak kapan dia tidak tinggal disini lagi? Halmoni tahu dia tinggal dimana sekarang?” tanyaku cepat.
“2 tahun yang lalu..dengar kabar, dia mengalami kecelakaan dan sudah meninggal, rumah ini dijual kepada orang lain oleh orang tuanya..sayang sekali dia meninggal di waktu muda, padahal dia sangat baik dan ramah..” jelas wanita tua itu dan terpancar kesedihan dari wajahnya.
Mataku membelalak mendengar penjelasan dari wanita tua itu, jantungku rasanya sudah berhenti berdetak, tubuhku kaku dan aku tidak sanggup mengeluarkan suara untuk menanyakan apapun lagi. Kyura menatapku dengan cemas karena ia juga terkejut dengan kabar itu.
“Halmoni yakin dengan kabar itu?” tanya Kyura untuk memastikan.
“Ya, aku yakin..berita itu ada masuk di salah satu koran dan dikatakan bahwa mobilnya meledak serta mayatnya tidak dikenali lagi..” jelas wanita tua itu.
Air mataku mulai keluar tapi tubuhku terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Rasanya aku sangat ingin berteriak pada Tuhan meminta jawaban yang sebenarnya tentang semua ini. Hatiku memberontak dengan semua kabar yang aku dengar ini.
“Kalian siapanya JungSoo?” tanya wanita tua itu lagi.
“Saya Kyura, sahabat JungSoo..dan ini Songphae, pacar JungSoo..” jelas Kyura.
“Oh~ ini pacarnya JungSoo? Sebentar..” kata wanita itu dan berjalan tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumahnya serta keluar dengan tangan yang memegang sebuah kotak. “Ini untuk Songphae, pacar JungSoo..sehari sebelum kecelakaan, JungSoo menitipkan ini padaku untuk disimpan..” kata wanita itu sambil menyodorkan kotak itu padaku.
Aku menerima kotak itu dengan air mata yang terus mengalir. Kabar ini benar-benar membuatku ingin bunuh diri. Kyura segera pamit dengan wanita tua itu dan menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Kyura takut aku tidak akan kuat bertahan lama disini.
“Marcus, odiya? Kau bisa tinggalkan pekerjaan itu hari ini? Aku perlu kau sekarang..” kata Kyura dengan Marcus yang dihubunginya dengan ponsel.
“Wae? Apa yang terjadi? Kau ada dimana sekarang?” tanya Marcus di ujung sana.
“Nathan sudah meninggal, Songphae sangat terpukul setelah mendengar kabar ini..kau langsung ke apartemenku saja, aku menunggumu disana..” kata Kyura dan memutuskan pembicaraan mereka.
“Kenapa harus JungSoo? Kenapa Tuhan sangat kejam mengambilnya dariku? Aku bahkan belum bertemu dengannya, belum melihatnya untuk terakhir kalinya, belum sempat mengatakan apapun padanya..bagaimana dengan hidupku ke depan tanpa JungSoo? Ottokhe?” gumamku dan membuat Kyura menatapku.
***
To Be Continued~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar